Project Steril Bareng: Bersama Kita Bisa Steril Kucing Terlantar

Ide soal steril kucing terlantar dalam skala besar sudah ada di benak kami sebenarnya sudah sejak akhir 2018 dengan ide mensteril kucing di salah satu pulau Kepulauan Seribu. Namun dengan situasi, kondisi, dan toleransi, kegiatan dibuat lebih sederhana yang mana diadakan di lokasi yang sudah biasa mengadakan steril kucing dalam jumlah puluhan ekor dan tidak perlu pakai acara mengirimkan tim + logistik menyeberang pulau.

Sebelum lanjut, kami di sini adalah orang-orang yang mengkoordinir kegiatan steril bersubsidi di beberapa daerah. Silakan klik kami jika anda berminat untuk steril kucing dengan biaya yang gak bikin kantong bolong karena yang namanya gratisan itu kan tergantung donasi ya, sahabat.

  • Lets Adopt Indonesia di Jakarta Selatan dan Bekasi
  • Ayo Steril di Cinere
  • Steril Donk!!! di Jakarta Pusat dan Jakarta Barat
  • Steril Malabar Bogor 
  • Stray Together Bekasi
  • Soul Care Cat di Jakarta Timur 
  • Rumah Steril di Depok 2

Penggalangan dana menjadi sebuah kisah yang seru. Ternyata program kami sepi minat sponsor dari produk kucing yang masuk di Indonesia. Akhirnya masuklah ke kitabisa. Ternyata banyak teman yang antusias berdonasi. Kami juga membuka kotak donasi di kegiatan steril kami masing-masing. Itu pun juga dapat respon positif.

Project Steril Bareng yang pertama diadakan tepat 17 Agustus. Ceritanya ada di sini. Syukurlah kegiatan perdana kami ini berjalan dengan lancar

Begitu Project Steril Bareng yang pertama ini selesai, kami pun langsung mempersiapkan diri untuk mengadakan Project Steril Bareng ke-2. Tentu dengan keterlibatan lebih banyak sukarelawan dan kucing yang ditangkap.

Kali ini pengumpulan dana selain dari kitabisa, kami juga menggelar kegiatan di Car Free Day bersama Happy Cat. Kembali responnya sangat berarti untuk kami. Gak percuma lah ya bangun subuh-subuh ke Car Free Day hehe.

Kegiatan penggalangan dana dan Project Steril Bareng ke-2 bisa dibaca di sini. Yang menarik adalah bagaimana kegiatan Project Steril Bareng ke-2 ini juga disambut antusias oleh Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Kota Administrasi Jakarta Selatan dengan menyediakan vaksin rabies gratis bagi pendaftar yang ber-KTP DKI.

Di Project Steril Bareng ke-2 ini hampir 100 ekor kucing terlantar disteril. Kucing-kucing tersebut berasal dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Bekasi.  Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan hampir 40an sukarelawan yang bertugas menangkap, merawat, dan melepaskan kembali kucing-kucing tersebut, mendesain materi konten promo, mengabadikan momen menarik, dan menyetir kendaraan menuju lokasi steril. Terima kasih untuk dukungannya teman-teman semua dan terima kasih kontribusinya wahai para donatur. Tunggu kami di Project Steril Bareng ke-3 setelah kami tarik napas sebentar

 

 

Perjalanan Kesadaran Linking di Jakarta

Mendapatkan kesempatan mengikuti kelas Linking Awareness Journey~Intercellular (non verbal) Communication pada 14, 15, 16 September kemarin adalah salah satu contoh bukti dari hipotesa saya bahwa saya tidak pernah mendapatkan sesuatu dalam hidup dengan instan. Saya tahu soal kelas ini sejak 2015. Ketika itu tim Rumah Steril tengah operasi steril. Pembicaraan basa-basi saya ketika itu tentu saja menanyakan soal ‘eh kemarin ke Lampung pelatihan apa?’ Saya tidak terlalu ingat apakah pembicaraan itu saya ceploskan karena saya masih takut melihat darah padahal saya jelas-jelas koordinator steril yang konon katanya tangguh itu atau karena untuk membuang kantuk.

Itulah pertama kalinya saya memahami konsep Linking Awareness. Rekan saya tersebut juga beberapa waktu kemudian memberikan link youtube perjalanan mereka di Lampung. Saya dengan percaya diri ketika itu menawarkan diri untuk jadi penerjemah jika perlu. Tentu saja tidak diterima. Kan saya bilang di atas bahwa saya tidak pernah mendapatkan segala sesuatu dengan instan. Saya seperti pemilik hewan pada umumnya pun bagai dapat pencerahan langsung menyodorkan anjing saya si Goofy (dia ketika itu masih anjing satu-satunya) yang selalu pilih-pilih makanan dan tidak mau makan banyak. Seperti pemilik awam, saya pun menitipkan pesan agar Goofy bisa dibujuk untuk makan dengan penuh semangat sehingga lebih gemuk seperti gambar anjing di bungkus makanan kering. Tentu saja hal tersebut tidak terjadi. Goofy merasa cukup dengan makanannya. Saya akhirnya menyerah merayunya dengan rupa-rupa makanan karena kemudian datang Pippo dengan sakit demodexnya yang cukup menyita perhatian. Kepada Goofy saya lebih ke ‘mau makan syukur, ga mau makan ya sudah’. Ternyata pelan-pelan Goofy semangat makan karena melihat Pippo yang doyan makan. Apalagi sekarang ditambah anak kost kami, Mory dan anak ajaib kami… Dexter.

Justru anggota tim Rumah Steril lain yang malah berangkat entah itu tahun 2016 atau 2017. Saya ketika itu memang belum berani mendaftarkan diri karena masalah biaya selain karena di masa itu saya nyaris mengurus rumah sendirian. Tidak memungkinkan untuk pergi berhari-hari ke luar kota. Lalu 2018 kesempatan itu datang lagi. Kali ini ada tawaran sponsorship. Saya lagi-lagi percaya diri mengajukan sponsorship tersebut. Dengan reputasi selalu gagal dapat beasiswa (padahal sudah mengantongi surat penerimaan universitas di USA maupun di Australia), saya lebih ringan mengajukan sponsorship karena saya sudah terbiasa menerima surat penolakan.

Ternyata saya diterima. Saya sempat termenung beberapa saat membaca surel penerimaan tersebut. Apakah saya cukup layak? Apakah surel ini tidak salah alamat? Ya sudahlah. Saya pun berangkat. Hari pertama, hari Jumat, luar biasa. Sesi sebelum makan siang saya jadi teringat ketika jaman kuliah. Betapa saya adalah orang yang lambat sekali mencerna sesi teori. Sesi setelah makan siang adalah sesi yang paling damai dalam hidup saya di tahun 2018. Saya bisa tertidur pulas. Saya rasanya merasa ciut karena peserta lain paham betul tahap demi tahap yang diperdengarkan kepada mereka, sementara saya malah mensyukuri bahwa saya bisa tidur. Banyak hal yang terjadi di tahun 2018 ini. Hampir setiap hari saya tidur dengan mimpi yang riuh padat skenario bagai sinetron azab, atau hari-hari lain yang saya tertidur karena sudah kelelahan. Perjalanan pulang di hari pertama benar-benar menyiksa. Jalanan Jakarta padat merayap, penuh debu. Saya kembali tidur pulas sambil tak lupa mendaftarkan Dexter untuk ikut keesokan harinya.

Keputusan membawa Dexter beberapa kali saya sesali. Selain karena Dexter memiliki stok ketenangan terbatas, saya pun jadi sulit berkonsentrasi mengikuti kegiatan hari itu. Saya sudah ingin menyerah minta Dexter dijemput pulang. Sayang tidak ada orang yang siap untuk menjemput Dexter. Pengalaman seharian di luar rumah bersama Dexter ini awalnya saya anggap bencana, tapi sekarang justru membuat saya lebih memahami Dexter. Oh ya, salah satu keputusan bulat saya mencoba ambil sponsorship adalah karena Dexter. Berbeda dengan ketiga anjing lainya, Dexter muncul dengan perilaku mudah cemas jika ditinggal bepergian. Dexter merusak barang. Dexter sering terlihat terkejut dengan kekacauan yang dia buat dan buru-buru ngumpet ketika kami pulang, tapi sepertinya Dexter sulit mengontrol emosinya sendiri. Di hari kedua ini saya bisa paham Dexter berbeda dengan anjing lain. Kalau ini anak manusia, mirip dengan anak hiperaktif. Sesuai pesan pengajar bahwa tidak mengedepankan ego, saya tidak terburu-buru menggunakan konsep di Linking Awareness Journey ini untuk mengarahkan Dexter agar tidak merusak barang. Saya justru lebih banyak menggunakannya untuk mendengarkan pesan dari hewan-hewan lain termasuk kucing-kucing saya sendiri.

Sepertinya keputusan saya untuk tidak terlalu fokus dengan perilaku Dexter ini cukup tepat. Dexter masih tetap sibuk dengan tulang yang selalu kami siapkan untuk dia gigit-gigiti. Dexter tentu saja masih selalu iseng bermain ke sana ke mari tapi secara umum Dexter lebih tenang mungkin seiring energi saya juga sudah tenang. Di hari ketiga isinya penuh dengan praktek langsung. Saya tidak merasa takut menyampaikan apa yang saya dapatkan karena sebenarnya saya sudah terbiasa membicarakan hal-hal tersebut di keluarga. Sekarang saya jadi paham bahwa semua itu bisa dibuat teratur dan terstruktur.

Untuk anda yang masih penasaran, atau lebih banyak menerima informasi yang dimulai dengan ‘katanya’ percayalah lebih baik mencoba. Minimal anda akan memperoleh tidur yang berkualitas bahkan setelah pelatihan tersebut selesai. Asyik kan? Cocok lah buat kita yang sibuk bekerja bagai kuda di ibukota? Kelas Linking Awareness Journey ini memang lebih enak dilakukan di luar kota. Namun jika budget dan waktu terbatas, berharaplah di tahun-tahun yang akan datang, kegiatan ini dapat rutin dilaksanakan di Jakarta atau Bogor. Saya bisa merasakan perjuangan saya menembus Depok – Blok M di hari pertama. Benar-benar mengacaukan ketenangan yang sudah terbangun.

Tentu saja ilmu yang kaya adalah yang dilatih terus menerus. Saran saya berlatihlah tanpa ngoyo dan tanpa target yang membebani. Itu sangat membantu saya yang notabene depresif. Apapun hasil berlatih sampaikan saja. Percayalah, jangan terlalu bangga bahwa anda akan lebih banyak menolong hewan, bisa jadi, seperti saya, mahluk-mahluk hidup tersebut yang lebih banyak menolong kita dalam kelas Linking Awareness Journey. Selamat mencoba dan percayalah semesta mendukung.  

Syarat Steril di Rumah Steril

Tiap lokasi steril memiliki kebijakan syarat sterilnya masing-masing. Apa yang tercantum di sini belum tentu berlaku di posko yang anda ikuti.

 

Syarat Steril

Pemilik yang baru pertama kali mensteril kucing memang biasanya was-was sebelum operasi. Persiapan sebelum steril kucing perlu dilakukan untuk membantu proses pelaksanaan steril itu sendiri. Ya memang setiap operasi selalu ada resikonya. Itu sebabnya tiap kucing yang akan disteril :

  1.  Kucing/ anjing sehat,
  2. Usia minimal 5-7 bulan (beberapa kucing mulai birahi di usia lima bulan. Silakan informasikan kepada kami perihal pelaksanaan sterilnya dengan mengirim foto gigi)
  3.  Tidak sedang menyusui (kucing lepas nyusu 2 bulan; anjing 4 bulan. Beberapa kucing kembali birahi ketika anaknya baru berusia 1,5 bulan. Jadi silakan hubungi kami perihal pelaksanaan sterilnya)
  4. Tidak sedang hamil BESAR KARENA RESIKO TINGGI & WAKTU LAMA PENGERJAAN sementara Antrian panjang
  5. Ingat operasi apapun selalu ada resikonya mau itu di klinik apa itu di posko. Jika anda tipe orang yang akan segera menghakimi tim medis (entah itu menuduh malpraktek lah, mengancam di media sosial lah) jika hewan anda mengalami kematian paska steril sebaiknya anda tidak perlu mendaftar di Rumah Steril. Karena sama saja anda sedang meminta kami menjadi Tuhan
  6. Tidak bisa cek hamil atau tidak; begitu bius masuk, harus langsung angkat kandungan (utk betina). Apabila sudah dioperasi dan hamil, akan dikenakan biaya extra :
    100rb (utk kucing)
    200 rb (utk anjing)
    ANJING WAJIB MENGIRIMKAN FOTO POSISI DUDUK

Kucing/ Anjing Sehat Seperti Apa?

1. Napsu makan bagus
2. Tidak diare/ muntah
3. Tidak dimandikan 1 hari sebelum steril
4. Jika kucing sudah divaksin, jarak dari vaksin ke steril adalah 3 minggu
berlaku juga untuk anjing

Soal Vaksin :

1. vaksin tdk bs diberikan kepada hewan yang hari itu disteril; tunggu dua minggu lagi ya
2. di rumah steril, hewan bisa steril sekalipun belum vaksin karena kondisi overpopulasi hewan sehingga steril dulu ga pa pa dengan memerhatikan pasien melalui pemeriksaan kesehatan secara klinis diterapkan sebelum tindakan steril; guna memastikan kondisi hewan tidak dalam kondisi sakit.
3. Jika hewan sudah divaksin, tunggu dua minggu dulu sebelum disteril

Cerita FIP di Rumah Steril

Saya benci membahas FIP. Semata-mata karena satu alasan : mengacak-acak perasaan. Orang yang mengenal saya tahu satu hal, saya selalu menjaga kondisi emosi saya stabil. Tidak pernah terlalu bahagia dan menolak menunjukkan kesedihan yang terdalam. FIP yang telah menyapa saya sejak 2015 adalah salah satu hal yang memancing kesedihan terdalam. Karena penyakit ini saya melihat berulang kali kematian kucing dan menandatangani persetujuan menyuntik mati kucing. Di tahun 2015 saya belum mengenal tes FIP. Baru 2018 ini satu kucing saya lakukan tes FIP. Hasilnya positif. Kucing-kucing lain telah lebih dulu pindah ke alam baka tanpa tes tapi setidaknya dengan bahagia karena mereka tahu saya selalu berusaha.

FIP, FIV atau FeLV? Nah bingung kan? Mari kita sisihkan dulu soal Panleukopenia, Calicivirus, Clamydia, dan Herpesvirus. Selain karena empat penyakit belakangan ini sudah lazim terjadi di kucing, empat penyakit tersebut sudah ada vaksinnya untuk mencegah tertular.

Sebenarnya FIP, FIV atau FeLV sudah saya kenal ketika salah satu dokter Rumah Steril berangkat pelatihan tentang penyakit pada kucing. Saya ikut membaca makalah dan mendengarkan rekamannya. Namun semacam mengabaikan karena saya sejujurnya sedih dan tidak mau mengalami wabah lagi. Sayangnya manusia berencana, Tuhan bercanda. FIP tidak pernah benar-benar pergi dari hidup saya. Terus mengintip dan menunggu beraksi menjadi sesuatu yang akhirnya merenggut nyawa kucing saya yang lemah.

Pemberian lysin dan taurine sebagai vitamin tambahan memang sangat membantu daya tahan mereka, saya akui. Mereka bisa hidup cukup panjang. Namun tetap saja perasaan sedih melihat kemerosotan kondisi kucing yang pelan-pelan jadi kurus dan menurun selera makannya dalam waktu mingguan atau bulanan itu menyakitkan hati.

FIP sering tertukar dengan FIV. Orang sering mengaku ‘kucing saya survive dari FIP‘ bisa jadi sebenarnya kucing tersebut tetap bisa bertahan hidup dengan FIV positif cuma karena ketidakpahaman dianggap kucingnya selamat dari FIP. Aha bingung? Wah saya sih tidak sabar giliran tim PDHI SidakBekasi yang memberikan penjabaran mudah dipahami untuk netijen. Kalau bisa sidak dan buat rilis media, menjelaskan soal beda FIP dan FIV mah gampang lahh. Pejabat dengan pengalaman praktek bertahun-tahun loh.

Baiklah. Lanjut ini adalah penjelasan dari orang awam ke orang awam. Materi yang digunakan dari membaca makalah pelatihan Infectious Diseases in Cat by European School for Advanced Veterinary Studies di Jogja. Tahunnya kapan? Tebak sendiri lah. Situ kan suka penasaran nanti ingin tahu siapa pesertanya dengan harapan bisa menemukan siapa nama dokter hewan di Rumah Steril. Ya kan? ya kan?

Baiklah saya akan jembrengkan semampu saya. Revisi sesukanya.

FIV atau Feline Immuno-Deficiency Virus.

  • Tidak menular ke manusia
  • Tidak menular ke kucing lain melalui penggunaan kotak pasir/wadah makan/ wadah minum bersama
  • Biasanya penularan antar kucing melalui darah entah itu gigitan antar kucing jantan ketika masa birahi, dari induk ke anak-anaknya, proses kawain, atau transfusi darah (jarang terjadi sih di Indonesia). Gimana pemilik kucing jantan masih keras kepala tidak steril kucingnya? Masihhh pastinya
  • Ada yang diikuti dengan penyakit tumor, ada yang tidak
  • FIV masih digolongkan lagi menjadi FIV A, B, C, D, E. Indonesia? Belum ada pemetaannya. Sehingga untuk vaksin tidak ada di Indonesia
  • Apakah ada pengobatan yang bisa dilakukan untuk sekedar menghambat? Tentu saja ada. Dokter hewannya kan bisa selain ngobrolin soal steril murah di WAG ya bisa ikut pelatihan gitu biar ilmunya terbarui.
  • Kucing tetap bisa hidup bahagia dengan kondisi positif FIV dengan memperhatikan hal sebagai berikut :
    • makanan dijaga sehat. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada penganut raw food, kucing dengan FIV tidak disarankan raw food.
    • kucing dipastikan tidak stres. Apa saja pemicu stres kucing:
      • birahi (terus aja ga disteril. terus lanjutin. lu pikir dunia kucing ini dunia lucu-lucuan dan cuan cuan cuan kan)
      • kucing baru (jangan kemudian diartikan saya melarang anda adopsi kucing baru. Lakukan dengan penuh pertimbangan. Kandangkan kucing tersebut selama sebulan jika perlu)
    • dukung dengan pemberian vitamin rutin. Gw saranin lysin lu merasa gw jualan, gw suruh sekalian beli Nutriplus Gel dompet lu keberatan. Emang susah ngomong ama BPJS sih..

FeLV : Feline Leukemia Virus

  • Tidak menular ke manusia. EH nulis ini penting ya. Pemelihara kucing baru biasanya agak norak di sini. Sok-sokan nolong kucing, terus ketakutan sendiri khawatir ketularan tokso. Makk ga nyambunggg. Situ pelihara tamagochi aja lah jamin ga kena apa-apa
  • Menular ke kucing lain melalui penggunaan wadah makanan dan minuman bersama, dan juga penularan melalui darah seperti yang terjadi di FIV.
  • Manifestasi FeLV bisa dalam bentuk penurunan daya tahan tubuh, gangguan dalam darah (misalnya anemia atau malah naiknya jumlah sel darah putih), gangguan syaraf dan tumor. BISA bukan berarti PASTI ya. Orang awam suka asal main ketuk palu soalnya. Ga paham probabilitas
  • Sama seperti FIV, kucing dengan FeLV tetap bisa hidup bahagia dengan ketentuan sama seperti FIV. Dah ga usah langsung semangat pengen mbuang kucing. Biarin aja dia hidup santai. Tepat pada waktunya dia akan kembali ke alam baka koq.

FIP alias Feline Infectious Peritonitis

  • Tidak menular ke manusia. Sori ya kucing itu berkelas. Kebanyakan penyakit mereka ga nular ke situ. Situ aja yang suka paranoid kegeeran bakal ketularan.
  • Peritonitis artinya adalah radang radang pada lapisan tipis di bagian dalam perut. Nah jadi paham mengapa kemudian ada istilah FIP basah (perutnya gembung dengan penuh cairan) dan FIP kering (ga ada gembung-gembungnya tuh perut)
  • Tidak ada vaksinnya. Tidak ada obatnya. Semua pertolongan yang diberikan hanya sekedar membuat nyaman. Saya pribadi melakukan hal sebagai berikut:
    • memisahkan mereka dalam kandang sendiri
    • Memberikan makanan yang mereka bisa makan. Biasanya makanan kering, akan melorot jadi hanya mau ayam atau ikan saja, kemudian melorot hanya Science Diet AD saja, kemudian melorot hanya Science Diet AD diencerkan. Semua saya ikuti. Tanpa banyak drama cekoki ini itu cuma nambah stres si kucing
  • Penyebabnya adalah virus tersohor bernama CORONA. Kalau di Toyota dulu CORONA lebih mahal daripada COROLLA (ehehe lawas bangat referensi gw; generasi sekarang pahamnya apanza ama sigra). CORONA bisa bermutasi dan menjadi mematikan. Itulah yang dikenal sebagai AIDS nya kucing alias FIP
  • CORONA bisa bertahan hidup di lingkungan biasa selama enam bulan. Beda dengan FeLV dan FIV yang akan mati jika tidak menemukan kucing untuk dihinggapi. Jadi bisa paham penularannya tidak melulu lewat penggunaan kotak makan bersama, tapi lebih canggih dari itu. Muahahaha.
  • Biasanya gejala yang dikeluhkan pemilik adalah:
    • Penurunan berat badan pada kucing
    • Penurunan napsu makan yang terjadi secara perlahan (bisa sampai 3 bulan)
  • Begitu melihat gejala seperti itu, pisahkan hewan dari teman-temannya. Pastikan dia menjalani akhir hidupnya dengan sehat. Bisa jadi di kandang selama 3 bulan atau 3 minggu. Tidak ada angka pasti. Yang jelas kondisinya terus melorot sampai ajal menjemput

Ditidurkan atau Tidak?

Saya penganut paham bahwa hewan ditidurkan jika memang situasinya sudah tidak memungkinkan. Membiarkan kucing saya mati pelan-pelan buat saya justru itu adalah penyiksaan binatang. Tidak ada mahluk hidup yang mau mati kesakitan. Jadi indikator saya menyetujui euthanasia biasanya:

  • sudah tidak mau makan/ minum sekalipun dipaksakan
  • sudah tidak ada kontak mata dengan respon yang baik

Adopsi Lagi?

Itu sebabnya saya selalu menerapkan Trap-Neuter-Release alias Tangkap – Steril – Lepaskan. Saya tidak sanggup menghadapi naik turun emosi seperti naik jet coaster. Setiap menata hewan-hewan tersebut, tentu saya merasa sedih apakah sebenarnya jika mereka tidak hidup bersama saya akan jauh memiliki harapan hidup yang lebih baik. Ah begitulah. Kemarahan kepada diri saya sendiri lebih banyak saya telan.

Akhir Kata

Begitulah cerita maupun fakta dicampuraduk dalam satu tulisan ini. Saya tentu saja selalu menancapkan di kepala agar tidak menambah kucing lagi karena saya asumsikan beberapa kucing saya sudah terkena FIV atau FeLV atau FIP tapi masih tetap terlihat sehat karena daya tahan tubuh mereka masih baik. Sebahagia-bahagianya saya di media sosial, saya hanyalah manusia biasa yang harus selalu siap ditinggal mati hewan yang urus sejak kecil dan prihatin. Teriakan saya untuk steril hanyalah :

  • bunyi sunyi di tengah orang-orang yang masih belum paham soal pentingnya steril untuk mengatasi 3 penyakit ini tidak semakin menyebar.
  • Belum lagi para breeder yang sibuk mengejar profit.
  • Sementara praktisi hewan yang paham steril masih asyik ribut sendiri menegakkan idealisme dan peraturan bahwa steril murah itu perbuatan ilegal dan hina di tengah kondisi pemanasan global yang tentu penyumbang terbesar pada mutasi virus di bumi.

Susah sih. Memang manusia adalah mahluk hidup yang abai dan cenderung ribet. Jangan-jangan bumi ini akan mengembalikan posisi normalnya ketika manusia punah semua dan hanya hewan dan tumbuhan yang hidup.

 

Mengapa Ada Steril Bersubsidi?

Ide steril bersubsidi yang berlokasi bukan di klinik ini sebenarnya sudah ada lebih dari 12 tahun yang lalu. Saya sendiri merintis Rumah Steril karena paham betul berat untuk orang Depok harus menggotong kucingnya ke Bekasi untuk steril murah. Ketika itu saya sendiri mensterilkan kucing saya di Steril Yuk. Selama berjalan saya tahu persis posko yang saya kenal selalu menggunakan dokter hewan. Memang mereka rata-rata hanya memegang Surat Tanda Registrasi Veteriner mengingat proses Surat Ijin Praktek yang memakan waktu, tenaga, dan biaya.

Apakah dokter hewan yang hanya memiliki STRV ini artinya bukan dokter hewan? Tidak juga, karena setiap kali surat tersebut perlu diperbarui, ada kredit yang harus dikumpulkan oleh dokter hewan tersebut melalui mengikuti seminar ataupun pelatihan sehingga memenuhi jumlah poin yang ditetapkan agar STRV ini bisa kembali digunakan.

Nah steril bisa dilaksanakan bersubsidi karena tidak adanya faktor sewa tempat (menggunakan rumah sukarelawan) dan dokterpun men-charge jasanya dengan harga minimal. Rentang harga steril ini sangat bervariasi. Dari 100 ribu sampai 200 ribu untuk kucing jantan ataupun kucing jantan. Setiap posko yang ada rata-rata bisa steril kucing sampai 20 ekor. Namun sekalipun bukan menempati klinik hewan, bukan berarti kami tidak memperhatikan kualitas ruangan yang dipakai untuk steril.

Kami cukup tahu diri dengan tidak menerima steril anjing betina karenItupun masalah overpopulasi tidak selesai karena sebenarnya pemahaman orang awam soal hal ini masih sangat rendah sekali. Jadi sekalipun mungkin total posko bisa mensteril sampai 1000 ekor, di saat yang sama masih ada 2000 ekor kucing yang dibiarkan beranak.  Tentu hal ini sangat melelahkan selain karena tidak adanya dukungan pemerintah,ancaman dari dokter hewan yang merasa steril bersubsidi adalah perbuatan ilegal, ancaman dari pemilik ketika hewannya bermasalah paska steril.

Apakah banyak yang merasakan manfaat dari steril bersubsidi? Ya banyak.

 

Perihal Steril Kucing di Bekasi

Apa masalah utama hewan kecil di Indonesia?

Dalam hal ini kucing dan anjing.  overpopulasi.

Apa solusi terbaik untuk overpopulasi?

Steril.

Steril bersubsidi di manapun berada sering menjadi pro dan kontra di kalangan pemilik maupun dokter hewan. Ada masyarakat bersama dokter hewan yang peduli untuk mengadakan steril bersubsidi sehingga siapa saja bisa mensteril kucingnya maupun kucing liar di sekitar. Rumah Steril cuma salah satunya. Saya sendiri sudah mengenal steril bersubsidi sejak 2006. Jadi sudah lebih dari 12 tahun kegiatan ini berjalan. Saya masih ingat nama dokter tersebut.

Seiring waktu berjalan, kegiatan ini menyebar ke berbagai kota di Indonesia. Beberapa nama yang cukup populer seperti Meong Bandung, Steril Yuk. Rumah Steril sendiri baru muncul di tahun 2014. Niat sederhana ini tidak selalu mendapat tanggapan positif. Sisi kontranya, dari persatuan dokter hewan sendiri memiliki kekhawatiran bahwa steril bersubsidi dilakukan oleh bukan dokter hewan ataupun dilakukan tidak menurut Standar Operasional yang ditetapkan.

Bagaimana dengan peran pemerintah? Melalui Puskeswan tidak cukup kapasitasnya untuk mengadakan steril murah bagi orang-orang yang peduli dengan overpopulasi kucing. Seringkali orang harus menunggu sampai berbulan-bulan untuk mendapatkan giliran steril. Tentu kita tidak bisa selalu berharap pada pemerintah karena banyak beban yang harus ditanggung.

Bagaimana dengan membuat steril murah di klinik? Itu pun tidak mendapat dukungan karena ditetapkan harga minimal steril. Tujuannya mulia agar tidak merusak harga. Akhirnya masalah overpopulasi ini tidak pernah tuntas teratasi

Tekanan yang diterima membuat penyelenggara cenderung merahasiakan lokasi dan nama dokter hewan demi keselamatan dokter tersebut. Selama ini setiap kali ada tekanan yang datang, penyelenggara posko steril bersubsidi memilih diam. Ketika akhirnya berita tersebut muncul di media sosial, banyak pihak yang mengetahui. Ini lah yang terjadi di Posko Steril Stray Together Kranji Bekasi. Ketika pihak datang untuk menegakkan peraturan, di saat yang sama pemilik kucing di lokasi pun melakukan penolakan. Berita inipun dengan cepat menyebar di kalangan pemilik kucing biasa maupun di kalangan dokter hewan. Masing-masing kubu berang. Polisi yang hadir pun paham masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan saja. Sayangnya regulasi masih belum jelas,

Okelah kesalahan Stray Together adalah menggunakan dokter hewan bukan dari Persatuan Dokter Hewan Indonesia Jawa Barat Lima. Kebetulan di saat yang bersamaan ada kasus kucing yang mati paska steril. Perihal kematian ini tidak bisa ditelusuri lebih lanjut karena pemilik menolak otopsi dan menolak memberikan alamat yang jelas karena sudah langsung melapor ke pihak dinas terkait hari Minggu tersebut ketika steril diadakan.

Namun kondisi tersebut menjadi seperti tercipta kubu ketika awal kedatangan PDHI Jabar 5 dengan tidak empatik hari Minggu jam 10 pagi. Peserta yang datang ketika itu pun menjadi merasa perlu melakukan perlawanan. Pihak PDHI Jabar 5 akhirnyapun bersedia tenang dan berbicara setelah malam hari. Dalam hal ini dokter Munawaroh yang menyampaikan bahwa PDHI Jabar 5 menerima penerimaan maaf dari Stray Together dan bukan itu saja dokter Munawaroh mewakili PDHI Jabar 5 menjanjikan:

akan mengadakan steril bersubsidi dengan lokasi dan dokter hewan ber-SIP sesuai standar yang ditetapkan. Ini tentu menjadi kabar baik untuk semua seperti buah manggis ada ekstraknya.

Ini sebuah kabar yang luar biasa untuk Bekasi. Lalu apakah PDHI Pusat sendiri pernah mengadakan kegiatan steril bersubsidi? Mungkin. Agak sulit mengetahui informasi ini karena website Persatuan Dokter Hewan Indonesia untuk level Nasional masih kosong.

Nah bagaimana dengan Depok? Saya yakin semangat membara dari PDHI Jabar 5 untuk mengadakan steril bersubsidi, akan tersebar juga di kalangan dokter hewan Depok. Sebenarnya saya pribadi bersedia tutup posko Rumah Steril dengan penuh sukacita jika ada solusi dari pihak Persatuan Dokter Hewan Indonesia di Depok. Setahu saya Depok masih bernaung di bawah PDHI Jabar 2 (Informasi ini saya dapatkan dari Twitter PDHI Jabar 2; website PDHI Jabar 2 sendiri diblokir Pemerintah Pusat terkena kebijakan internet sehat) Misalnya steril rutin dengan harga terjangkau yang diadakan bersama. Ini tentu juga membantu mengangkat promosi dokter hewan yang ada di Depok.

Sekedar gambaran:

  1. 90% kucing yang didaftarkan di Rumah Steril adalah kucing lokal yang dulunya hidup di jalan ataupun masih hidup di jalan.
  2. 90% pendaftar adalah pemilik pemula yang awalnya menolong kucing di jalan karena kasihan. Bukan pemilik hewan ras. Bagaimana dengan yang 10%? Mereka menampung kucing yang diabaikan pemilik sebelumnya
  3.  80% pendaftar adalah pemilik menengah bawah dengan pekerjaan sektor informal seperti pedagang pasar atau sopir taksi online. Cukup banyak mahasiswa yang juga akhirnya tergerak mensteril kucing di kampusnya sekalipun seringkali kucing-kucing tersebut dikarungin dan dibuang ke daerah pemukiman yang masih kosong seperti Jonggol

Angka ini selama 4 tahun berjalan bukanlah angka bombastis mengingat kami tidak rutin mengadakan steril setiap hari. Saya percaya dengan semangat dari PDHI Bekasi yang ada saat ini akan juga memacu tim dokter hewan Depok mengadakan hal yang serupa bukan cuma sebatas wacana. Selamat melaksanakan steril bersubsidi, selamat mengurus pendaftaran, selamat mengatasi overpopulasi dan Rumah Steril ataupun posko manapun yang ada bisa undur diri dan menjalani panggilan hidup yang lain 😉

Menangani Scabies Kucing

Akhir 2017 menuju 2018, saya nekat mencoba menangani scabies pada kucing liar yang saya ambil hanya menggunakan obat minum. Ini semata saya lakukan karena ingin mencoba Kepromec. Selama ini jika ada kucing dengan scabies, saya cukup pergi ke dokter untuk suntik kutu lalu seminggu kemudian saya mandikan dengan pipapet.

Namun terinspirasi oleh follower Rumah Steril di Instagram yang tidak ada akses dokter hewan, saya pun mencoba meminumkan Kepromec. Memang tuntas membereskan scabies. Sama saja dengan menggunakan suntik kutu ke dokter hewan. Bedanya kita perlu rajin meneteskan obat ke mulut selama 3 sampai 4 hari berturut-turut jika masalahnya adalah scabies bukan kutu kuping alias earmites (pembahasan soal kutu kuping akan ditulis di tayangan berikutnya ya). Pada kucing Harbolnas tahap yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Pemberian Kepromec selama 4 hari berturut-turut. Cacing di dalam perutnya juga ikut mati

    Kepromec Sahabat 5mL
  2. Setelah hari ke-5 rontokan scabies tetap banyak di tatakan kandang karena memang hanya mengandalkan salep Sahabat. Iseng supaya rontokan cepat selesai, saya mandikan dengan Pipapet. Lumayan rontokan scabies langsung berkurang banyak. Cuma karena pembersihan menggunakan sikat kucing otomatis ada sedikit lecet sebab memang scabies cenderung membuat kulit luka. Jadi saya tidak memandikan lagi cukup oles pakai Salep Sahabat
  3. Salep Sahabat ini selain membantu memulihkan luka juga melunakkan kulit kucing Harbolnas. Penggunaan salep cuma 1 minggu.
  4. Berikutnya perbaikan gizi pada kucing Harbolnas menggunakan lysin. Pembahasan soal ini juga akan di tayangan berikutnya

 

Penjelasan Rumah Steril mengenai Kematian Anjing Hatchi

Berikut ini penjelasan mengenai kematian anjing Hatchi paska steril Selasa 13 Februari 2018 milik Ibu Saida, Saudara Besley dan Verzy.

Ketika anjing Hatchi menghembuskan napas terakhir, kami sudah menyampaikan belasungkawa.

Ketika kami diminta mengubur anjing Hatchi, kami kembali menjelaskan kronologinya apa.

Ketika Saudara Besley tiba-tiba kembali tidak ikhlas atas kematian anjing Hatchi minta bertemu, kami pun menyediakan waktu hari Rabu 14 Februari.

Lalu di hari Rabu 14 Februari 2018, Saudara Besley menyatakan baru bisa iklas, jika dokter Rumah Steril bertemu dengan ibunya, Ibu Saida. Kami pun meminta alamat lengkap mereka agar bisa datang

Namun Kamis 15 Februari 2018 pagi, Saudara Besley berubah pikiran dan menyatakan bahwa identitas dokter harus dibuka dan tidak mempedulikan apakah dokter tersebut akan dirundung atau tidak.

Maka keputusan kami tetap sama: Kami memilih melindungi identitas dokter sekalipun itu tidak memuaskan Saudara Besley, Ibu Saida dan Saudara Verzy

 

 

Tim Rumah Steril Goes to #FancyFeastLunchDate

Secara kebetulan sebagian dari anggota tim kami lagi santai akhir pekan ini jadi kami langsung mengiyakan undangan makan siang dari Fancy Feast. Ini bukan makan siang biasa karena pemilik bisa makan siang bersama kucing peliharaan mereka. Cuma dari 3 kucing yang kami bawa, kami memutuskan Lolly saja yang ikut makan siang. Lolly ditemukan dari Pasar Musi Depok dengan kondisi kuping infeksi dan jamuran. Kami rawat selama beberapa hari dan sekarang Lolly tinggal bersama relawan Rumah Steril Beji. Bagaimana dengan Cicil dan Shuma? Yah difoto sebentar di lokasi sebelum kembali ke keranjang masing-masing karena mereka sepertinya tidak nyaman di ruang terbuka.

Acara dimulai dengan perkenalan produk Fancy Feast baru kemudian kami diajak ke area dapur tempat chef mempersipkan makanan untuk kucing menggunakan salah satu rasa Fancy Feast yaitu Turkey. Apa yang menjadi keunggulan Fancy Feast dibanding makanan basah lain? Ternyata adanya pilihan tekstur agar kucing tidak bosan. Ada yang halus, ada yang kasar, dan ada yang dicampur antara yang halus dan potongan-potongan daging di tengahnya.

Selanjutnya kami menikmati makan siang yang sudah disiapkan oleh tim Almond Zucchini. Nah Lolly juga hadir bersama kami cuma dia masih takut-takut, mau minta dibungkusin saja juga kami gengsi. Jadilah Lolly hanya santai di sofa rotan yang sudah disiapkan. Ternyata itu tidak berlaku untuk kucing-kucing lainnya. Mereka makan dengan lahap racikan Fancy Feast dan sayur yang dibuat oleh chef. Hmm. Pulangnya kami mendapatkan bingkisan menarik: Fancy Feast! Hore! Pasukan Rumah Steril juga bisa mencicipi makanan kucing istimewa ini! Terima kasih Nestle!