Steril Hewan Bersubsidi di Depok

Perjalanan Kesadaran Linking di Jakarta

Mendapatkan kesempatan mengikuti kelas Linking Awareness Journey~Intercellular (non verbal) Communication pada 14, 15, 16 September kemarin adalah salah satu contoh bukti dari hipotesa saya bahwa saya tidak pernah mendapatkan sesuatu dalam hidup dengan instan. Saya tahu soal kelas ini sejak 2015. Ketika itu tim Rumah Steril tengah operasi steril. Pembicaraan basa-basi saya ketika itu tentu saja menanyakan soal ‘eh kemarin ke Lampung pelatihan apa?’ Saya tidak terlalu ingat apakah pembicaraan itu saya ceploskan karena saya masih takut melihat darah padahal saya jelas-jelas koordinator steril yang konon katanya tangguh itu atau karena untuk membuang kantuk.

Itulah pertama kalinya saya memahami konsep Linking Awareness. Rekan saya tersebut juga beberapa waktu kemudian memberikan link youtube perjalanan mereka di Lampung. Saya dengan percaya diri ketika itu menawarkan diri untuk jadi penerjemah jika perlu. Tentu saja tidak diterima. Kan saya bilang di atas bahwa saya tidak pernah mendapatkan segala sesuatu dengan instan. Saya seperti pemilik hewan pada umumnya pun bagai dapat pencerahan langsung menyodorkan anjing saya si Goofy (dia ketika itu masih anjing satu-satunya) yang selalu pilih-pilih makanan dan tidak mau makan banyak. Seperti pemilik awam, saya pun menitipkan pesan agar Goofy bisa dibujuk untuk makan dengan penuh semangat sehingga lebih gemuk seperti gambar anjing di bungkus makanan kering. Tentu saja hal tersebut tidak terjadi. Goofy merasa cukup dengan makanannya. Saya akhirnya menyerah merayunya dengan rupa-rupa makanan karena kemudian datang Pippo dengan sakit demodexnya yang cukup menyita perhatian. Kepada Goofy saya lebih ke ‘mau makan syukur, ga mau makan ya sudah’. Ternyata pelan-pelan Goofy semangat makan karena melihat Pippo yang doyan makan. Apalagi sekarang ditambah anak kost kami, Mory dan anak ajaib kami… Dexter.

Justru anggota tim Rumah Steril lain yang malah berangkat entah itu tahun 2016 atau 2017. Saya ketika itu memang belum berani mendaftarkan diri karena masalah biaya selain karena di masa itu saya nyaris mengurus rumah sendirian. Tidak memungkinkan untuk pergi berhari-hari ke luar kota. Lalu 2018 kesempatan itu datang lagi. Kali ini ada tawaran sponsorship. Saya lagi-lagi percaya diri mengajukan sponsorship tersebut. Dengan reputasi selalu gagal dapat beasiswa (padahal sudah mengantongi surat penerimaan universitas di USA maupun di Australia), saya lebih ringan mengajukan sponsorship karena saya sudah terbiasa menerima surat penolakan.

Ternyata saya diterima. Saya sempat termenung beberapa saat membaca surel penerimaan tersebut. Apakah saya cukup layak? Apakah surel ini tidak salah alamat? Ya sudahlah. Saya pun berangkat. Hari pertama, hari Jumat, luar biasa. Sesi sebelum makan siang saya jadi teringat ketika jaman kuliah. Betapa saya adalah orang yang lambat sekali mencerna sesi teori. Sesi setelah makan siang adalah sesi yang paling damai dalam hidup saya di tahun 2018. Saya bisa tertidur pulas. Saya rasanya merasa ciut karena peserta lain paham betul tahap demi tahap yang diperdengarkan kepada mereka, sementara saya malah mensyukuri bahwa saya bisa tidur. Banyak hal yang terjadi di tahun 2018 ini. Hampir setiap hari saya tidur dengan mimpi yang riuh padat skenario bagai sinetron azab, atau hari-hari lain yang saya tertidur karena sudah kelelahan. Perjalanan pulang di hari pertama benar-benar menyiksa. Jalanan Jakarta padat merayap, penuh debu. Saya kembali tidur pulas sambil tak lupa mendaftarkan Dexter untuk ikut keesokan harinya.

Keputusan membawa Dexter beberapa kali saya sesali. Selain karena Dexter memiliki stok ketenangan terbatas, saya pun jadi sulit berkonsentrasi mengikuti kegiatan hari itu. Saya sudah ingin menyerah minta Dexter dijemput pulang. Sayang tidak ada orang yang siap untuk menjemput Dexter. Pengalaman seharian di luar rumah bersama Dexter ini awalnya saya anggap bencana, tapi sekarang justru membuat saya lebih memahami Dexter. Oh ya, salah satu keputusan bulat saya mencoba ambil sponsorship adalah karena Dexter. Berbeda dengan ketiga anjing lainya, Dexter muncul dengan perilaku mudah cemas jika ditinggal bepergian. Dexter merusak barang. Dexter sering terlihat terkejut dengan kekacauan yang dia buat dan buru-buru ngumpet ketika kami pulang, tapi sepertinya Dexter sulit mengontrol emosinya sendiri. Di hari kedua ini saya bisa paham Dexter berbeda dengan anjing lain. Kalau ini anak manusia, mirip dengan anak hiperaktif. Sesuai pesan pengajar bahwa tidak mengedepankan ego, saya tidak terburu-buru menggunakan konsep di Linking Awareness Journey ini untuk mengarahkan Dexter agar tidak merusak barang. Saya justru lebih banyak menggunakannya untuk mendengarkan pesan dari hewan-hewan lain termasuk kucing-kucing saya sendiri.

Sepertinya keputusan saya untuk tidak terlalu fokus dengan perilaku Dexter ini cukup tepat. Dexter masih tetap sibuk dengan tulang yang selalu kami siapkan untuk dia gigit-gigiti. Dexter tentu saja masih selalu iseng bermain ke sana ke mari tapi secara umum Dexter lebih tenang mungkin seiring energi saya juga sudah tenang. Di hari ketiga isinya penuh dengan praktek langsung. Saya tidak merasa takut menyampaikan apa yang saya dapatkan karena sebenarnya saya sudah terbiasa membicarakan hal-hal tersebut di keluarga. Sekarang saya jadi paham bahwa semua itu bisa dibuat teratur dan terstruktur.

Untuk anda yang masih penasaran, atau lebih banyak menerima informasi yang dimulai dengan ‘katanya’ percayalah lebih baik mencoba. Minimal anda akan memperoleh tidur yang berkualitas bahkan setelah pelatihan tersebut selesai. Asyik kan? Cocok lah buat kita yang sibuk bekerja bagai kuda di ibukota? Kelas Linking Awareness Journey ini memang lebih enak dilakukan di luar kota. Namun jika budget dan waktu terbatas, berharaplah di tahun-tahun yang akan datang, kegiatan ini dapat rutin dilaksanakan di Jakarta atau Bogor. Saya bisa merasakan perjuangan saya menembus Depok – Blok M di hari pertama. Benar-benar mengacaukan ketenangan yang sudah terbangun.

Tentu saja ilmu yang kaya adalah yang dilatih terus menerus. Saran saya berlatihlah tanpa ngoyo dan tanpa target yang membebani. Itu sangat membantu saya yang notabene depresif. Apapun hasil berlatih sampaikan saja. Percayalah, jangan terlalu bangga bahwa anda akan lebih banyak menolong hewan, bisa jadi, seperti saya, mahluk-mahluk hidup tersebut yang lebih banyak menolong kita dalam kelas Linking Awareness Journey. Selamat mencoba dan percayalah semesta mendukung.  

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *