Steril Hewan Bersubsidi di Depok

Cerita FIP di Rumah Steril

Saya benci membahas FIP. Semata-mata karena satu alasan : mengacak-acak perasaan. Orang yang mengenal saya tahu satu hal, saya selalu menjaga kondisi emosi saya stabil. Tidak pernah terlalu bahagia dan menolak menunjukkan kesedihan yang terdalam. FIP yang telah menyapa saya sejak 2015 adalah salah satu hal yang memancing kesedihan terdalam. Karena penyakit ini saya melihat berulang kali kematian kucing dan menandatangani persetujuan menyuntik mati kucing. Di tahun 2015 saya belum mengenal tes FIP. Baru 2018 ini satu kucing saya lakukan tes FIP. Hasilnya positif. Kucing-kucing lain telah lebih dulu pindah ke alam baka tanpa tes tapi setidaknya dengan bahagia karena mereka tahu saya selalu berusaha.

FIP, FIV atau FeLV? Nah bingung kan? Mari kita sisihkan dulu soal Panleukopenia, Calicivirus, Clamydia, dan Herpesvirus. Selain karena empat penyakit belakangan ini sudah lazim terjadi di kucing, empat penyakit tersebut sudah ada vaksinnya untuk mencegah tertular.

Sebenarnya FIP, FIV atau FeLV sudah saya kenal ketika salah satu dokter Rumah Steril berangkat pelatihan tentang penyakit pada kucing. Saya ikut membaca makalah dan mendengarkan rekamannya. Namun semacam mengabaikan karena saya sejujurnya sedih dan tidak mau mengalami wabah lagi. Sayangnya manusia berencana, Tuhan bercanda. FIP tidak pernah benar-benar pergi dari hidup saya. Terus mengintip dan menunggu beraksi menjadi sesuatu yang akhirnya merenggut nyawa kucing saya yang lemah.

Pemberian lysin dan taurine sebagai vitamin tambahan memang sangat membantu daya tahan mereka, saya akui. Mereka bisa hidup cukup panjang. Namun tetap saja perasaan sedih melihat kemerosotan kondisi kucing yang pelan-pelan jadi kurus dan menurun selera makannya dalam waktu mingguan atau bulanan itu menyakitkan hati.

FIP sering tertukar dengan FIV. Orang sering mengaku ‘kucing saya survive dari FIP‘ bisa jadi sebenarnya kucing tersebut tetap bisa bertahan hidup dengan FIV positif cuma karena ketidakpahaman dianggap kucingnya selamat dari FIP. Aha bingung? Wah saya sih tidak sabar giliran tim PDHI SidakBekasi yang memberikan penjabaran mudah dipahami untuk netijen. Kalau bisa sidak dan buat rilis media, menjelaskan soal beda FIP dan FIV mah gampang lahh. Pejabat dengan pengalaman praktek bertahun-tahun loh.

Baiklah. Lanjut ini adalah penjelasan dari orang awam ke orang awam. Materi yang digunakan dari membaca makalah pelatihan Infectious Diseases in Cat by European School for Advanced Veterinary Studies di Jogja. Tahunnya kapan? Tebak sendiri lah. Situ kan suka penasaran nanti ingin tahu siapa pesertanya dengan harapan bisa menemukan siapa nama dokter hewan di Rumah Steril. Ya kan? ya kan?

Baiklah saya akan jembrengkan semampu saya. Revisi sesukanya.

FIV atau Feline Immuno-Deficiency Virus.

  • Tidak menular ke manusia
  • Tidak menular ke kucing lain melalui penggunaan kotak pasir/wadah makan/ wadah minum bersama
  • Biasanya penularan antar kucing melalui darah entah itu gigitan antar kucing jantan ketika masa birahi, dari induk ke anak-anaknya, proses kawain, atau transfusi darah (jarang terjadi sih di Indonesia). Gimana pemilik kucing jantan masih keras kepala tidak steril kucingnya? Masihhh pastinya
  • Ada yang diikuti dengan penyakit tumor, ada yang tidak
  • FIV masih digolongkan lagi menjadi FIV A, B, C, D, E. Indonesia? Belum ada pemetaannya. Sehingga untuk vaksin tidak ada di Indonesia
  • Apakah ada pengobatan yang bisa dilakukan untuk sekedar menghambat? Tentu saja ada. Dokter hewannya kan bisa selain ngobrolin soal steril murah di WAG ya bisa ikut pelatihan gitu biar ilmunya terbarui.
  • Kucing tetap bisa hidup bahagia dengan kondisi positif FIV dengan memperhatikan hal sebagai berikut :
    • makanan dijaga sehat. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada penganut raw food, kucing dengan FIV tidak disarankan raw food.
    • kucing dipastikan tidak stres. Apa saja pemicu stres kucing:
      • birahi (terus aja ga disteril. terus lanjutin. lu pikir dunia kucing ini dunia lucu-lucuan dan cuan cuan cuan kan)
      • kucing baru (jangan kemudian diartikan saya melarang anda adopsi kucing baru. Lakukan dengan penuh pertimbangan. Kandangkan kucing tersebut selama sebulan jika perlu)
    • dukung dengan pemberian vitamin rutin. Gw saranin lysin lu merasa gw jualan, gw suruh sekalian beli Nutriplus Gel dompet lu keberatan. Emang susah ngomong ama BPJS sih..

FeLV : Feline Leukemia Virus

  • Tidak menular ke manusia. EH nulis ini penting ya. Pemelihara kucing baru biasanya agak norak di sini. Sok-sokan nolong kucing, terus ketakutan sendiri khawatir ketularan tokso. Makk ga nyambunggg. Situ pelihara tamagochi aja lah jamin ga kena apa-apa
  • Menular ke kucing lain melalui penggunaan wadah makanan dan minuman bersama, dan juga penularan melalui darah seperti yang terjadi di FIV.
  • Manifestasi FeLV bisa dalam bentuk penurunan daya tahan tubuh, gangguan dalam darah (misalnya anemia atau malah naiknya jumlah sel darah putih), gangguan syaraf dan tumor. BISA bukan berarti PASTI ya. Orang awam suka asal main ketuk palu soalnya. Ga paham probabilitas
  • Sama seperti FIV, kucing dengan FeLV tetap bisa hidup bahagia dengan ketentuan sama seperti FIV. Dah ga usah langsung semangat pengen mbuang kucing. Biarin aja dia hidup santai. Tepat pada waktunya dia akan kembali ke alam baka koq.

FIP alias Feline Infectious Peritonitis

  • Tidak menular ke manusia. Sori ya kucing itu berkelas. Kebanyakan penyakit mereka ga nular ke situ. Situ aja yang suka paranoid kegeeran bakal ketularan.
  • Peritonitis artinya adalah radang radang pada lapisan tipis di bagian dalam perut. Nah jadi paham mengapa kemudian ada istilah FIP basah (perutnya gembung dengan penuh cairan) dan FIP kering (ga ada gembung-gembungnya tuh perut)
  • Tidak ada vaksinnya. Tidak ada obatnya. Semua pertolongan yang diberikan hanya sekedar membuat nyaman. Saya pribadi melakukan hal sebagai berikut:
    • memisahkan mereka dalam kandang sendiri
    • Memberikan makanan yang mereka bisa makan. Biasanya makanan kering, akan melorot jadi hanya mau ayam atau ikan saja, kemudian melorot hanya Science Diet AD saja, kemudian melorot hanya Science Diet AD diencerkan. Semua saya ikuti. Tanpa banyak drama cekoki ini itu cuma nambah stres si kucing
  • Penyebabnya adalah virus tersohor bernama CORONA. Kalau di Toyota dulu CORONA lebih mahal daripada COROLLA (ehehe lawas bangat referensi gw; generasi sekarang pahamnya apanza ama sigra). CORONA bisa bermutasi dan menjadi mematikan. Itulah yang dikenal sebagai AIDS nya kucing alias FIP
  • CORONA bisa bertahan hidup di lingkungan biasa selama enam bulan. Beda dengan FeLV dan FIV yang akan mati jika tidak menemukan kucing untuk dihinggapi. Jadi bisa paham penularannya tidak melulu lewat penggunaan kotak makan bersama, tapi lebih canggih dari itu. Muahahaha.
  • Biasanya gejala yang dikeluhkan pemilik adalah:
    • Penurunan berat badan pada kucing
    • Penurunan napsu makan yang terjadi secara perlahan (bisa sampai 3 bulan)
  • Begitu melihat gejala seperti itu, pisahkan hewan dari teman-temannya. Pastikan dia menjalani akhir hidupnya dengan sehat. Bisa jadi di kandang selama 3 bulan atau 3 minggu. Tidak ada angka pasti. Yang jelas kondisinya terus melorot sampai ajal menjemput

Ditidurkan atau Tidak?

Saya penganut paham bahwa hewan ditidurkan jika memang situasinya sudah tidak memungkinkan. Membiarkan kucing saya mati pelan-pelan buat saya justru itu adalah penyiksaan binatang. Tidak ada mahluk hidup yang mau mati kesakitan. Jadi indikator saya menyetujui euthanasia biasanya:

  • sudah tidak mau makan/ minum sekalipun dipaksakan
  • sudah tidak ada kontak mata dengan respon yang baik

Adopsi Lagi?

Itu sebabnya saya selalu menerapkan Trap-Neuter-Release alias Tangkap – Steril – Lepaskan. Saya tidak sanggup menghadapi naik turun emosi seperti naik jet coaster. Setiap menata hewan-hewan tersebut, tentu saya merasa sedih apakah sebenarnya jika mereka tidak hidup bersama saya akan jauh memiliki harapan hidup yang lebih baik. Ah begitulah. Kemarahan kepada diri saya sendiri lebih banyak saya telan.

Akhir Kata

Begitulah cerita maupun fakta dicampuraduk dalam satu tulisan ini. Saya tentu saja selalu menancapkan di kepala agar tidak menambah kucing lagi karena saya asumsikan beberapa kucing saya sudah terkena FIV atau FeLV atau FIP tapi masih tetap terlihat sehat karena daya tahan tubuh mereka masih baik. Sebahagia-bahagianya saya di media sosial, saya hanyalah manusia biasa yang harus selalu siap ditinggal mati hewan yang urus sejak kecil dan prihatin. Teriakan saya untuk steril hanyalah :

  • bunyi sunyi di tengah orang-orang yang masih belum paham soal pentingnya steril untuk mengatasi 3 penyakit ini tidak semakin menyebar.
  • Belum lagi para breeder yang sibuk mengejar profit.
  • Sementara praktisi hewan yang paham steril masih asyik ribut sendiri menegakkan idealisme dan peraturan bahwa steril murah itu perbuatan ilegal dan hina di tengah kondisi pemanasan global yang tentu penyumbang terbesar pada mutasi virus di bumi.

Susah sih. Memang manusia adalah mahluk hidup yang abai dan cenderung ribet. Jangan-jangan bumi ini akan mengembalikan posisi normalnya ketika manusia punah semua dan hanya hewan dan tumbuhan yang hidup.

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *